FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KURANG GIZI PADA BAYI
Pendahuluan
Gizi
memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Masa kehamilan
merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena
tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam
kandungan. Kekurangan
gizi pada ibu hamil dapat menyebabkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR),lahir premature, sehingga bisa berdampak pada
rendahnya status gizi pada bayi.
Bayi merupakan salah satu kelompok rawan
gizi. Kekurangan gizi pada masa bayi dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang
secara fisik, mental, social, dan intelektual yang sifatnya menetap dan terus
dibawa sampai anak menjadi dewasa. Selain itu kekurangan gizi dapat menyebabkan
terjadinya penurunan atau rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.
Badan kesehatan dunia WHO dan UNICEF menyatakan terjadinya gagal tumbuh akibat
kurang gizi pada masa bayi mengakibatkan terjadinya penurunan IQ 11 point lebih
rendah dibanding anak yang tidak kurang gizi.
Gizi kurang dan gizi buruk saat ini
terjadi hampir di semua Kabupaten dan Kota di Indonesia yaitu 110
Kabupaten/Kota dari 440 Kabupaten/Kota di Indonesia dengan prevalensi di atas
30%. Kondisi gizi buruk berpotensi terhadap angka kematian. Hal ini dilihat
dari tingginya jumlah kasus gizi buruk yang meninggal di Indonesia selama tahun
2005 yaitu 286 balita. Angka ini diperkirakan lebih tinggi dari yang sebenarnya
karena data ini berdasarkan laporan yang terdata dari 7 propinsi. Kasus-kasus
kematian balita akibat gizi buruk yang tidak dilaporkan diyakini masih banyak.
Pola asuh makan pada bayi meliputi
pemberian gizi yang cukup dan seimbang melalui pemberian ASI dan MPASI. Pada
bayi pemberian ASI dan MPASI yang tidak benar ditengarai sebagai penyebab
tingginya angka kesakitan dan gizi kurang. Manfaat ASI untuk pertumbuhan dan
perkembangan bayi sudah dibuktikan secara akurat yaitu untuk imunitas tubuh,
ekonomis, psikologis, praktis dan lain-lain. Pemberian ASI secara eksklusif
yaitu pemberian ASI saja tanpa makanan lain direkomendasikan selama 6 bulan.
Sedangkan MPASI direkomendasikan setelah usia bayi 6 bulan seiring dengan
bertambahnya kebutuhan gizi bayi dan menurunnya produksi ASI.
Usia
0-24 bulan ( 1.000 hari pertama
kehidupan) merupakan masa pertumbuhan dan
perkembangan yang pesat, sehingga sering diistilahkan sebagai periode emas
sekaligus periode kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi
memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal. Sebaliknya
apabila pada masa ini bayi tidak
memperoleh asupan makanan
sesuai kebutuhan gizinya, maka periode emas akan berubah menjadi periode kritis
yang akan mengganggu tumbuh kembang, baik pada saat ini maupun masa
selanjutnya.
Untuk mencapai tumbuh kembang optimal,
di dalam Global Strategy for Infant and
Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang
harus dilakukan yaitu; pertama memberikan air susu ibu kepada bayi
segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya
air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai
bayi berusia 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping air susu ibu
(MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan
pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih. Rekomendasi tersebut
menekankan, secara sosial budaya MP-ASI hendaknya dibuat dari bahan pangan yang
murah dan mudah diperoleh di daerah setempat (indigenous food). Untuk mencapai
target di atas, dilakukan
sejumlah kegiatan yang bertumpu kepada perubahan perilaku dengan cara
mewujudkan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi). Melalui penerapan perilaku keluarga
sadar gizi, keluarga didorong untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi sejak
lahir sampai berusia 6 bulan dan memberikan MP-ASI yang cukup dan bermutu
kepada bayi dan anak usia 6-24 bulan. Bagi keluarga mampu, pemberian MP-ASI
yang cukup dan bermutu relatif tidak bermasalah. Namun, pada keluarga miskin,
pendapatan yang rendah menimbulkan keterbatasan pangan di rumah tangga yang berlanjut
kepada rendahnya jumlah dan mutu MP-ASI yang diberikan kepada bayi.
Kondisi Umum dan
Masalah Gizi Pada Bayi
Masalah
kekurangan gizi yang mendapat banyak perhatian akhir-akhir ini adalah masalah
kurang gizi kronis dalam bentuk anak pendek atau stunting, kurang gizi akut dalam bentuk anak kurus atau wasting.
Kemiskinan dan rendahnya pendidikan dipandang sebagai akar penyebab kekurangan
gizi. Oleh karena kedua masalah gizi tersebut terkait erat dengan masalah gizi
dan kesehatan ibu hamil dan menyusui, bayi yang baru lahir dan anak usia di
bawah dua tahun (baduta). Apabila dihitung dari sejak hari pertama kehamilan,
kelahiran bayi sampai anak usia 2 tahun, maka periode ini merupakan periode
1000 hari pertama kehidupan manusia. Periode ini telah dibuktikan secara ilmiah
merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan. Oleh karena itu periode
ini disebut sebagai periode emas, periode kritis, dan window of opportunity.
Status gizi dan
kesehatan ibu dan anak sebagai penentu kualitas sumber daya manusia, semakin
jelas dengan adanya bukti bahwa status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-hamil,
saat kehamilan dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis. Periode
seribu hari, yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan
pertama bayi yang dilahirkannya, merupakan periode sensitif karena akibat yang
ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat
dikoreksi. Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada
perkembangan mental dan kecerdasannya, yang pada usia dewasa terlihat dari
ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang
berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.
Banyak yang
berpendapat bahwa ukuran fisik, termasuk tubuh pendek, gemuk dan beberapa
penyakit tertentu khususnya penyakit tidak menular disebabkan terutama oleh
faktor genetik. Dengan demikian ada anggapan tidak banyak yang dapat dilakukan
untuk memperbaiki atau mengubahnya. Namun berbagai bukti ilmiah dari lembaga
riset gizi dan kesehatan terbaik di dunia telah mengubah paradigma tersebut.
Ternyata tubuh pendek, gemuk, penyakit tidak menular, dan beberapa indikator
kualitas hidup lainnya, faktor penyebab terpentingnya adalah lingkungan hidup
sejak konsepsi sampai anak usia 24
bulan yang dapat dirubah dan diperbaiki.
Di dalam
kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui pertambahan berat dan
panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ lainnya seperti jantung,
hati, dan ginjal. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan
dengan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang
menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu. Sekali perubahan tersebut
terjadi, maka tidak dapat kembali ke keadaan semula. Perubahan tersebut
merupakan interaksi antara gen yang sudah dibawa sejak awal kehidupan, dengan
lingkungan barunya. Pada saat dilahirkan, sebagian besar perubahan tersebut
menetap atau selesai, kecuali beberapa fungsi, yaitu perkembangan otak dan
imunitas, yang berlanjut sampai beberapa tahun pertama kehidupan bayi.
Kekurangan gizi yang terjadi dalam kandungan dan awal kehidupan menyebabkan
janin melakukan reaksi penyesuaian. Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi
perlambatan pertumbuhan dengan pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel
tubuh termasuk sel otak dan organ tubuh lainnya. Hasil reaksi penyesuaian
akibat kekurangan gizi di ekspresikan pada usia dewasa dalam bentuk tubuh yang
pendek, rendahnya kemampuan kognitif atau kecerdasan sebagai akibat tidak
optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak. Reaksi penyesuaian akibat
kekurangan gizi juga meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit tidak
menular seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes dengan
berbagai risiko ikutannya pada usia dewasa.
Berbagai dampak
dari kekurangan gizi, berdampak dalam bentuk kurang optimalnya kualitas
manusia, baik diukur dari kemampuan mencapai tingkat pendidikan yang tinggi,
rendahnya daya saing, rentannya terhadap penyakit tidak menular, yang semuanya
bermuara pada menurunnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan keluarga dan
masyarakat. Dengan kata lain kekurangan gizi dapat memiskinkan masyarakat. Berbagai
masalah tersebut bukan disebabkan terutama oleh faktor genetik yang tidak dapat
diperbaiki seperti yang diduga oleh sebagian masyarakat , melainkan oleh karena
faktor lingkungan hidup yang dapat diperbaiki dengan fokus pada masa 1000 hari
pertama kehidupan.

Masalah
kekurangan gizi 1000 hari pertama kehidupan diawali dengan perlambatan atau
retardasi pertumbuhan janin yang dikenal sebagai IUGR (Intra Uterine Growth Retardation). Di negara berkembang kurang gizi
pada pra-hamil dan ibu hamil berdampak pada lahirnya anak yang IUGR dan BBLR.
Kondisi IUGR hampir separuhnya terkait dengan status gizi ibu, yaitu berat
badan (BB) ibu pra-hamil yang tidak sesuai dengan tinggi badan ibu atau
bertubuh pendek dan pertambahan berat badan selama kehamilannya (PBBH) kurang
dari seharusnya. Saat hamil, ibu yang bertubuh pendek akan cenderung melahirkan
bayi yang BBLR. Apabila tidak ada perbaikan terjadinya IUGR dan BBLR akan terus
berlangsung di generasi selanjutnya, sehingga terjadi masalah anak pendek
intergenerasi.
Saat
ini, BBLR masih tetap menjadi masalah dunia khususnya di negara-negara
berkembang. Lebih dari 20 juta bayi di dunia (15,5% dari seluruh kelahiran)
mengalami BBLR dan 95 persen diantaranya terjadi di negara-negara berkembang.
Di Indonesia, pada tahun 2010, prevalensi BBLR sebesar 8,8 persen. Kejadian
BBLR, besar kemungkinan berasal dari ibu yang hamil dengan kondisi kurang
energi kronis (KEK), dan risikonya lebih tinggi pada ibu hamil usia 15-19
tahun. Yang mana proporsi ibu hamil KEK usia 15-19 tahun masih sebesar 31
persen. Ibu yang masih muda atau menikah di usia remaja 15-19 tahun cenderung
melahirkan anak berpotensi pendek dibanding ibu yang menikah pada usia 20 tahun
ke atas. Dari 556 juta balita di negara berkembang, 178 juta anak (32%)
bertubuh pendek dan 19 juta anak sangat kurus (<-3SD), serta 3,5 juta anak
meninggal setiap tahun.
IUGR,
anak pendek dan anak sangat kurus akan mengakibatkan 2,2 juta kematian dan 91
juta DALYS, atau 21 persen dari total balita. DALYS (Disability Adjusted
Life Year) adalah ukuran beban penyakit yang dihitung dari banyaknya tahun
yang hilang karena sakit, tidak produktif (disable) atau kematian dini.
Faktor Penyebab
Masalah Gizi pada bayi
Masalah
gizi merupakan akibat dari berbagai faktor yang saling terkait. Terdapat dua
faktor langsung yang mempengaruhi status gizi individu, yaitu faktor makanan
dan penyakit infeksi, keduanya saling mempengaruhi. Faktor penyebab langsung
pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi prinsip gizi seimbang.
Faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang terkait dengan tingginya
kejadian penyakit menular dan buruknya kesehatan lingkungan.

Faktor
penyebab langsung pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah
dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai
kebutuhan, bersih, dan aman, misalnya bayi tidak memperoleh ASI eksklusif.
Faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan
tingginya kejadian penyakit menular terutama diare dan penyakit pernapasan akut
(ISPA). Faktor ini banyak terkait mutu pelayanan kesehatan dasar khususnya
imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku hidup sehat. Kualitas
lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih, sarana sanitasi dan
perilaku hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air
besar di jamban, tidak merokok , sirkulasi udara dalam rumah dan sebagainya.
Faktor
lain yang juga berpengaruh yaitu ketersediaan pangan di keluarga, khususnya pangan
untuk bayi 0-6 bulan (ASI eksklusif) dan 6-23 bulan (MP-ASI), dan pangan yang
bergizi seimbang khususnya bagi ibu hamil. Semuanya itu terkait pada kualitas
pola asuh anak. Pola asuh, sanitasi lingkungan, akses pangan keluarga, dan
pelayanan kesehatan, dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pendapatan, dan akses
informasi terutama tentang gizi dan kesehatan.
Selain itu, Indonesia merupakan negara
yang cukup rawan terjadi bencana, dimana bayi dan ibu hamil termasuk korban
bencana yang rentan terhadap masalah gizi. Masalah gizi yang biasa timbul
adalah kurang gizi pada bayi dan anak berumur di bawah dua tahun (baduta), bayi
tidak mendapatkan air susu ibu karena terpisah dari ibunya, dan semakin
memburuknya status gizi kelompok masyarakat yang sebelum bencana memang dalam
kondisi bermasalah. Kondisi ini diperburuk dengan bantuan makanan yang sering terlambat,
tidak berkesinambungan, serta terbatasnya ketersediaan pangan lokal. Masalah tersebut
diperburuk lagi dengan kurangnya pengetahuan dalam penyiapan makanan buatan
lokal khususnya untuk bayi dan baduta.
Anak usia 0-12 bulan merupakan
kelompok yang rawan ketika harus mengalami situasi darurat, mengingat kelompok
anak ini sangat rentan dengan perubahan konsumsi makanan dan kondisi lingkungan
yang terjadi tiba-tiba.
Intervensi gizi terhadap bayi yang
menjadi korban bencana dapat dilakukan dengan cara bayi tetap diberi ASI. Apabila
bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya atau ibu tidak dapat memberikan ASI,
upayakan bayi mendapat bantuan ibu susu/donor. Apabila tidak memungkinkan bayi
mendapat ibu susu/donor, bayi diberikan susu formula dengan pengawasan atau didampingi
oleh petugas kesehatan.
Kemiskinan dan
Masalah Gizi.
Dikalangan
ahli ekonomi beranggapan bahwa masalah kemiskinan adalah akar dari masalah
kekurangan gizi. Kemiskinan menyebabkan akses terhadap pangan di rumah tangga
sulit dicapai sehingga orang akan kekurangan berbagai zat gizi yang dibutuhkan.
Pada
akhirnya, akar masalah gizi berikutnya adalah faktor yang dapat berpengaruh
pada semua faktor langsung dan tidak langsung. Sering disebut sebagai underlying
factor yaitu situasi politik, ekonomi dan sumber daya yang ada, yang
meliputi sumber daya lingkungan, perubahan iklim, bencana dan sebagainya.
Landasan
kebijakan program pangan dan gizi dalam jangka panjang di tingkat nasional
cukup kuat. Hal ini dirumuskan dalam Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025. Pendekatan
multi sektor dalam pembangunan pangan dan gizi pada UU tersebut telah
dinyatakan dengan jelas, bahwa pembangunan gizi meliputi produksi, pengolahan,
distribusi, hingga konsumsi pangan, dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang,
serta terjamin keamanannya.
Pembangunan
jangka panjang dijalankan secara bertahap dalam kurun waktu lima tahunan,
dirumuskan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden (Perpres). RPJMN tahap ke-2 periode
tahun 2010-2014, juga telah memberikan landasan yang kuat untuk melaksanakan
program pangan dan perbaikan gizi. Dalam RPJMN tahap ke-2 terdapat dua
indikator outcome yang berkaitan dengan gizi yaitu prevalensi kekurangan
gizi (gizi kurang dan gizi buruk) sebesar <15 persen dan prevalensi stunting
(pendek) sebesar 32 persen pada akhir 2014. Sasaran program gizi juga telah
dirumuskan dengan jelas yaitu lebih difokuskan terhadap ibu hamil sampai anak
usia 24 bulan.
Status Gizi Ibu Hamil
Sejumlah hal yang mempengaruhi status
gizi ibu hamil, yaitu status sosial ekonomi, status kesehatan ibu, jarak
kelahiran jika yang dikandung bukan anak pertama, paritas dan usia kehamilan
pertama. Status gizi ibu menjadi lebih penting karena selain tingginya berbagai
keadaan kurang gizi, persentase kehamilan pada usia muda cukup tinggi.
Kelompok umur 21-35 tahun merupakan umur ideal
seorang ibu untuk menjalani proses kehamilan dan persalinan. Usia yang rentan terhadap
kelainan kehamilan adalah usia remaja atau usia di atas 35 tahun. Kelahiran
prematur pada umumnya terjadi pada ibu
hamil usia remaja. Hal tersebut dapat terjadi karena
kurang matangnya organ reproduksi, gizi buruk, kurang perawatan selama periode
prakelahiran, atau karena kondisi ekonomi-sosial yang rendah.
Sedangkan pada ibu yang berusia di atas
35 tahun juga harus
diwaspadai karena semakin bertambah umur maka akan mudah terjadinya kekurangan
gizi yang akan berpengaruh terhadap berat badan selama kehamilan dan juga pada
bayi yang akan dilahirkan. Pada usia ini juga kadang-kadang dapat menimbulkan down
syndrome yaitu keterbelakangan mental.
Selain faktor usia, faktor yang juga mempengaruhi
status gizi ibu hamil adalah status ekonomi. Status ekonomi, terlebih jika yang
bersangkutan hidup di bawah garis kemiskinan (keluarga prasejahtera), berguna untuk
pemastian apakah si ibu berkemampuan membeli dan memilih makanan yang bernilai
gizi tinggi. Ekonomi juga selalu menjadi faktor penentu dalam proses kehamilan yang
sehat. Keluarga dengan ekonomi cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara
rutin dan merencanakan persalinan di tenaga kesehatan.
Berdasarkan berat lahir dan lama
gestasi, bayi lahir dapat dikategorikan ke dalam: i) normal, ii) prematur, dan
iii) intra uterine growth retardation(IUGR) yang terdiri dari dua
kelompok yaitu adequate Ponderal index (API) dan low Ponderal index
(LPI). Perkembangan bayi IUGR, bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan masa
kehamilan genap bulan (37 minggu), yaitu IUGR API dan IUGR LPI berhubungan
dengan karakteristik lahir. BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat kurang
dari 2500 g. Perbedaan pertumbuhan kedua kelompok ini tergantung pada waktu
terjadinya kurang gizi dalam kehamilan. Pada kelompok API, kurang gizi terjadi
sejak permulaan kehamilan, sedangkan pada kelompok LPI hanya pada trimester
ketiga kehamilan. Oleh karena itu baik berat maupun panjang badan lahir
kelompok API terkena dampaknya (kurus dan pendek), sedangkan dampak pada
kelompok LPI terlihat hanya pada berat lahir (kurus) dan kurang terlihat pada
panjang badan lahir. Berbeda dengan bayi prematur, yang juga termasuk BBLR
tetapi dengan umur kehamilan <
37
minggu, berat dan panjang badannya selain tergantung pada status gizi ibu, juga
pada umur kehamilan.
Kesehatan dan gizi ibu hamil merupakan
kondisi yang sangat diperlukan bagi janin untuk menjadi sehat. Jika tidak, maka
dari awal kehidupan manusia akan bermasalah pada kehidupan selanjutnya. Masa
kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas
anak
yang dilahirkan. Keadaan gizi ibu yang kurang baik sebelum hamil dan pada waktu
hamil cenderung untuk melahirkan bayi dengan BBLR, bahkan kemungkinan bayi meninggal
dunia. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan rendah berpotensi menjadi bayi dengan gizi kurang
bahkan menjadi buruk. Gizi buruk pada bayi
berdampak pada penurunan tingkat kecerdasan atau IQ. Lebih jauh
lagi dampak yang diakibatkan adalah meningkatnya kejadian kesakitan bahkan
kematian.
Salah satu alternatif memotong siklus
hayati kekurangan gizi jatuh pada mata rantai status gizi dan kesehatan ibu
hamil yang merupakan faktor penentu kesehatan dan gizi generasi selanjutnya.
Intervensi gizi pada masa kehamilan dapat memperbaiki komposisi dan ukuran
tubuh pada masa remaja dan dewasa kelak. Pemberian makanan tambahan (PMT) pada
ibu hamil adalah salah satu alternatif perbaikan gizi bagi generasi berikutnya Intervensi
gizi pada masa kehamilan juga dapat memberikan tambahan atau simpanan zat gizi
yang lebih baik pada ibu dan janin, misalnya intervensi besi dapat meningkatkan
simpanan besi dalam bentuk ferritin atau haemosiderin dalam hati dan darah,
seng dalam bentuk α-macroglobulin, asam folat dalam bentuk poliglutamat, dan iodium
dalam tiroid (dalam bentuk tiroglobulin).
Simpanan ini dapat dimanfaatkan bayi
dari ASI selama masa menyusui misalnya laktoferin. Demikian juga halnya dengan
zat gizi yang meningkatkan pertumbuhan seperti seng, yodium, vitamin A dan
folat diduga memungkinkan meningkatkan cadanganya pada bayi yang dilahirkan.
Program-program
Spesifik dan Sensitif
Faktor
langsung dan tidak langsung diartikan sebagai faktor yang masing-masing
memerlukan intervensi yang spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi
spesifik, adalah tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan
khusus untuk kelompok 1000 hari pertama kehidupan. Kegiatan ini
pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan, seperti imunisasi, PMT ibu hamil
dan balita, monitoring pertumbuhan balita di posyandu, suplemen tablet besi-folat
ibu hamil, promosi ASI eksklusif, MP-ASI dan sebagainya. Intervensi spesifik
bersifat jangka pendek. Hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek.
Sedang
intervensi Sensitif adalah berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor
kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 hari
pertama kehidupan. Namun apabila direncanakan secara khusus dan terpadu dengan
kegiatan spesifik, dampaknya sensitif terhadap keselamatan proses pertumbuhan
dan perkembangan 1000 hari pertama kehidupan. Dampak kombinasi dari kegiatan
spesifik dan sensitif bersifat langgeng (sustainable) dan jangka
panjang. Beberapa kegiatan tersebut adalah penyediaan air bersih, sarana
sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi,
fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan,
kesetaraan gender, dan lain-lain.
Program-Program
Spesifik
1.
Ibu Hamil
·
Perlindungan terhadap Kurangan Zat Besi, Asam Folat, dan
Kekurangan Energi dan Protein Kronis.
Perlindungan
tersebut bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi masalah-masalah anemi gizi
besi dan ibu hamil kurus karena kurang energi dan protein kronis. Anemia besi
merupakan faktor penting (13,8%) penyebab kematian ibu. Disamping itu terdapat
23 persen ibu yang kurus. Selain kekurangan gizi ternyata ibu hamil di
Indonesia juga menderita kegemukan sebesar 29 persen yang berdampak negatif
pada pertumbuhan janin.
·
Perlindungan Ibu Hamil terhadap Malaria
Malaria
pada kehamilan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu hamil dan janinnya.
Malaria berkontribusi terhadap angka kematian ibu, bayi dan neonatal.
Komplikasi malaria yang dapat ditemukan pada ibu hamil adalah anemia, demam,
hipoglikemia, malaria serebral, edema paru dan sepsis. Sementara komplikasi
terhadap janin yang dikandungnya adalah dapat menyebabkan berat lahir rendah, abortus, kelahiran
prematur, Intra Uterine Fetal Death (IUFD) / janin mati di dalam
kandungan, dan Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) /pertumbuhan
janin yang terbelakang. Prevalensi malaria khusus untuk ibu hamil tidak
tercatat, tetapi kasus malaria atau API (Annual Parasite Indeks) pada
tahun 2010 tercatat 2 orang per 1000.
2.
Bayi Umur
0-24 bulan
·
ASI Eksklusif
Data
Susenas maupun Riskesdas menunjukkan adanya kecenderungan penurunan pemberian
ASI eksklusif. Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif
rata-rata nasional baru sekitar 15,3 persen. Selain masih kurangnya pengetahuan
ibu tentang pentingnya ASI, juga maraknya promosi susu formula yang diwaktu
yang lalu, menurut UNICEF, "out of control", merupakan
hambatan yang menyebabkan tidak efektifnya promosi ASI eksklusif. Dengan
dikeluarkannya PP no 33 tahun 2012 tentang ASI sebagai peraturan pelaksanaan
Undang-Undang no 23 Tahun 2009 tentang kesehatan yang diharapkan dapat
dilakukan tindakan hukum yang lebih tegas bagi penghambat pelaksanaan ASI eksklusif.
·
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
Setelah
ASI eksklusif 0-6 bulan, ASI harus tetap diberikan sampai usia 24
bulan. Oleh karena kebutuhan akan zat gizi anak terus meningkat,
ASI saja tidak cukup maka harus ditambah makanan lain sebagai pendamping ASI.
Masalahnya oleh karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan keluarga, banyak anak yang tidak memperoleh MP-ASI memenuhi
prinsip gizi seimbang, yaitu cukup energi, protein, lemak dan zat gizi mikro
(vitamin dan mineral).
Program-Program
Sensitif
1.
Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
Salah
satu faktor penyebab kurang gizi termasuk anak pendek adalah infeksi, terutama
diare. Tiap tahun 20 persen kematian balita disebabkan karena diare yang
disebabkan oleh air minum yang tercemar bakteri. Tingginya angka kematian bayi
dan balita, serta kurang gizi sangat terkait dengan masalah kelangkaan air
bersih dan sanitasi. Banyak cara sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi
resiko diare, diantaranya dengan cuci tangan dengan air bersih dan sabun. Telah
dibuktikan bahwa cuci tangan dengan air bersih dan sabun mengurangi kejadian
diare 42-47 persen. Dengan demikian program air bersih dan sanitasi tidak
diragukan sangat sensitif terhadap pengurangan resiko infeksi.
2.
Ketahanan Pangan dan Gizi
Definisi
ketahanan pangan mengatakan bahwa setiap orang harus memiliki akses terhadap
pangan yang cukup jumlah dan mutunya untuk memenuhi kebutuhan gizi. Ukuran
pemenuhan kebutuhan gizi yang dipakai sampai saat ini terbatas pada kecukupan
energi di atas 70 persen kebutuhan. Dibawah itu tergolong rawan pangan. Ukuran
kemiskinan dalam MDGs tidak terbatas pada pendapatan per orang per hari, tetapi
juga pada banyaknya anak yang kurang gizi dengan indikator anak kurus, pendek,
dan kurus-pendek. Pengertian ketahanan pangan yang terbatas pada pemenuhan
energi, sensitifitasnya terhadap masalah 1000 hari pertama kehidupan minimal
oleh karena masalahnya tidak hanya kekurangan energi tetapi juga zat-zat gizi
yang lain.
3.
Keluarga Berencana
Keterpaduan
antara program perbaikan gizi dengan keluarga berencana telah berlangsung lama
di berbagai negara baik negara maju maupun berkembang. Di Indonesia keterpaduan
tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 20 tahun dalam kegiatan Gizi-KB
dari program Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), Repelita III-VI (1980-1990an).
Ada hubungan erat antara jumlah anak, jarak kehamilan dan kelahiran, serta ASI
eksklusif dengan prevalensi anak pendek dan anak kurus karena kekurangan gizi.
4.
Jaminan Kesehatan Masyarakat
Jaminan
Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bertujuan untuk membantu masyarakat miskin
atau tidak mampu dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat tidak mampu.
Manfaat yang diterima oleh penduduk miskin dalam Jamkesmas bersifat
komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) sesuai kebutuhan
medis dan pelayanan kesehatannya bersifat perseorangan (personal care).
5.
Jaminan Persalinan Universal
Kesehatan
ibu dan anak merupakan indikator penting dalam pembangunan kesehatan, selain
menunjukkan kinerja pelayanan kesehatan nasional. Upaya yang dilakukan untuk
peningkatan kesehatan ibu dan anak adalah melalui program jaminan persalinan
universal bagi keluarga tidak mampu. Jaminan persalinan dilaksanakan untuk ibu
hamil dalam mendapatkan pelayanan ANC, persalinan, dan PNC pada fasilitas
kesehatan yang bekerjasama dengan program dan pembiayaannya ditanggung
pemerintah. Penyelenggaraan jaminan persalinan terintegrasi dengan program
Jamkesmas. Jaminan persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan
yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas
termasuk pelayanan KB pascapersalinan dan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga
kesehatan yang kompeten.
6.
Fortifikasi Pangan
Fortifikasi
pangan adalah bentuk intervensi gizi yang cost effective. Oleh karena
itu dapat dianggap sensitif terhadap pencegahan dan penanggulangan masalah gizi
1000 hari pertama kehidupan. Fortifikasi yang dimaksud adalah fortifikasi
pangan untuk mengatasi masalah kekurangan zat gizi mikro, khususnya zat besi,
yodium, seng, asam folat dan vitamin A yaitu fortifikasi wajib pada bahan
pangan pokok seperti tepung terigu, garam, dan minyak goreng, dan menggunakan
fortifikan sesuai dengan masalah gizi yang ada termasuk masalah kelompok 1000 hari
pertama kehidupan, yaitu zat yodium, zat besi, seng, asam folat, dan vitamin A.
7.
Perlindungan terhadap kurang yodium.
Tercakup
dalam program fortifikasi garam dengan yodium (yodisasi garam) yang berlaku
diseluruh tanah air sejak 1994 (Keputusan Presiden RI No.69 Tahun 1994 tentang
Pengadaan Garam Beryodium). Persentase rumah tangga yang mengkonsumsi
garam dengan kadar yodium yang memenuhi syarat hanya 62,3 persen jauh dibawah
sasaran (90%). Sasaran tersebut hanya dicapai 6 provinsi yaitu Sumatera Barat,
Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Gorontalo dan Papua Barat.
Apabila keadaan ini terus berlangsung akan mengancam keselamatan janin dan anak
pada 1000 hari pertama kehidupan. Kekurangan yodium pada kehamilan merusak
pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Kendala utama rendahnya
pencapaian konsumsi garam beryodium, karena kurangnya perhatian pemerintah daerah
yang antara lain ditengarai dengan lemahnya penegakan hukum peraturan daerah
yang mengatur produksi dan peredaran garam beryodium.
8.
Pendidikan Gizi Masyarakat
Pendidikan
gizi masyarakat atau dalam bahasa operasionalnya disebut KIE (Komunikasi,
Informasi dan Edukasi) gizi, bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang sama
tentang pengertian gizi, masalah gizi, faktor penyebab gizi, dan kebijakan dan
program perbaikan gizi kepada masyarakat termasuk semua pelaku program. Pendidikan
gizi berperan memberikan pengetahuan, menumbuhkan sikap dan menciptakan
perilaku hidup sehat dengan gizi seimbang. Dalam gizi seimbang tidak hanya
mendidik soal makanan dan keseimbangan komposisi zat gizi dan kebutuhan tubuh
akan zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, dan air),
tetapi juga kesimbangan dengan pola hidup bersih untuk mencegah kontaminasi
makanan dan infeksi.
DAFTAR PUSTAKA
Arisma. 2008. Gizi
dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC
Direktorat Bina Gizi Masyarakat. 2012. Kerangka Kebijakan Gerakan Sadar Gizi dalam Rangka 1000 Hari Pertama Kehidupan
(1000 HPK). Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2006. Pedoman
Umum Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) Lokal. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2010. Pedoman
Pelaksanaan Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Ipa, Agustian. 2010. Status Gizi dan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pemberian ASI Eksklusif
di Kelurahan Maccini Kecamatan Makassar. Makassar. Media Gizi Pangan, Vol.
IX, Edisi 1, Januari-Juni.
Saragih, Bernatal, Hidayat Syarief,
Hadi Riyadi, Amini Nasoetion. 2007. Pengaruh Pemberian Pangan Fortifikasi Zat
multi Gizi Mikro pada Ibu Hamil terhadap Pertumbuhan Linier, Tinggi Lutut dan
Status Anemia bayi. Gizi
Indon 2007, 30(1):12-24.
mau nanya mbak, tolok ukur suatu daerah dikatakan berhasil dalam meningkatkan pola gizi yang sehat utk bayi apa aja mbak yulie
BalasHapusMari mampir kesini ya Cafe Hits di Demak jangan lupa pokoknya
BalasHapusMohegan Sun Poker Tournament Schedule william hill william hill fun88 soikeotot fun88 soikeotot 824Mozzart Bonus Code【WG】Mummys Gold Bonus
BalasHapus