Sabtu, 10 November 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURANG GIZI PADA BAYI


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KURANG GIZI PADA BAYI

Pendahuluan
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat menyebabkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR),lahir premature, sehingga bisa berdampak pada rendahnya status gizi pada bayi.
Bayi merupakan salah satu kelompok rawan gizi. Kekurangan gizi pada masa bayi dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang secara fisik, mental, social, dan intelektual yang sifatnya menetap dan terus dibawa sampai anak menjadi dewasa. Selain itu kekurangan gizi dapat menyebabkan terjadinya penurunan atau rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Badan kesehatan dunia WHO dan UNICEF menyatakan terjadinya gagal tumbuh akibat kurang gizi pada masa bayi mengakibatkan terjadinya penurunan IQ 11 point lebih rendah dibanding anak yang tidak kurang gizi.
Gizi kurang dan gizi buruk saat ini terjadi hampir di semua Kabupaten dan Kota di Indonesia yaitu 110 Kabupaten/Kota dari 440 Kabupaten/Kota di Indonesia dengan prevalensi di atas 30%. Kondisi gizi buruk berpotensi terhadap angka kematian. Hal ini dilihat dari tingginya jumlah kasus gizi buruk yang meninggal di Indonesia selama tahun 2005 yaitu 286 balita. Angka ini diperkirakan lebih tinggi dari yang sebenarnya karena data ini berdasarkan laporan yang terdata dari 7 propinsi. Kasus-kasus kematian balita akibat gizi buruk yang tidak dilaporkan diyakini masih banyak.
Pola asuh makan pada bayi meliputi pemberian gizi yang cukup dan seimbang melalui pemberian ASI dan MPASI. Pada bayi pemberian ASI dan MPASI yang tidak benar ditengarai sebagai penyebab tingginya angka kesakitan dan gizi kurang. Manfaat ASI untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi sudah dibuktikan secara akurat yaitu untuk imunitas tubuh, ekonomis, psikologis, praktis dan lain-lain. Pemberian ASI secara eksklusif yaitu pemberian ASI saja tanpa makanan lain direkomendasikan selama 6 bulan. Sedangkan MPASI direkomendasikan setelah usia bayi 6 bulan seiring dengan bertambahnya kebutuhan gizi bayi dan menurunnya produksi ASI.
Usia 0-24 bulan ( 1.000 hari pertama kehidupan) merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga sering diistilahkan sebagai periode emas sekaligus periode kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal. Sebaliknya apabila pada masa ini bayi tidak memperoleh asupan makanan sesuai kebutuhan gizinya, maka periode emas akan berubah menjadi periode kritis yang akan mengganggu tumbuh kembang, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya.
Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, di dalam Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu; pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih. Rekomendasi tersebut menekankan, secara sosial budaya MP-ASI hendaknya dibuat dari bahan pangan yang murah dan mudah diperoleh di daerah setempat (indigenous food). Untuk mencapai target di atas, dilakukan sejumlah kegiatan yang bertumpu kepada perubahan perilaku dengan cara mewujudkan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi). Melalui penerapan perilaku keluarga sadar gizi, keluarga didorong untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan dan memberikan MP-ASI yang cukup dan bermutu kepada bayi dan anak usia 6-24 bulan. Bagi keluarga mampu, pemberian MP-ASI yang cukup dan bermutu relatif tidak bermasalah. Namun, pada keluarga miskin, pendapatan yang rendah menimbulkan keterbatasan pangan di rumah tangga yang berlanjut kepada rendahnya jumlah dan mutu MP-ASI yang diberikan kepada bayi.

Kondisi Umum dan Masalah Gizi Pada Bayi
Masalah kekurangan gizi yang mendapat banyak perhatian akhir-akhir ini adalah masalah kurang gizi kronis dalam bentuk anak pendek atau stunting, kurang gizi akut dalam bentuk anak kurus atau wasting. Kemiskinan dan rendahnya pendidikan dipandang sebagai akar penyebab kekurangan gizi. Oleh karena kedua masalah gizi tersebut terkait erat dengan masalah gizi dan kesehatan ibu hamil dan menyusui, bayi yang baru lahir dan anak usia di bawah dua tahun (baduta). Apabila dihitung dari sejak hari pertama kehamilan, kelahiran bayi sampai anak usia 2 tahun, maka periode ini merupakan periode 1000 hari pertama kehidupan manusia. Periode ini telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan. Oleh karena itu periode ini disebut sebagai periode emas, periode kritis, dan window of opportunity.
Status gizi dan kesehatan ibu dan anak sebagai penentu kualitas sumber daya manusia, semakin jelas dengan adanya bukti bahwa status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-hamil, saat kehamilan dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis. Periode seribu hari, yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya, merupakan periode sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan mental dan kecerdasannya, yang pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.
Banyak yang berpendapat bahwa ukuran fisik, termasuk tubuh pendek, gemuk dan beberapa penyakit tertentu khususnya penyakit tidak menular disebabkan terutama oleh faktor genetik. Dengan demikian ada anggapan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau mengubahnya. Namun berbagai bukti ilmiah dari lembaga riset gizi dan kesehatan terbaik di dunia telah mengubah paradigma tersebut. Ternyata tubuh pendek, gemuk, penyakit tidak menular, dan beberapa indikator kualitas hidup lainnya, faktor penyebab terpentingnya adalah lingkungan hidup sejak konsepsi sampai anak usia 24 bulan yang dapat dirubah dan diperbaiki.
Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ lainnya seperti jantung, hati, dan ginjal. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi, artinya janin akan dengan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya baik yang menguntungkan maupun yang merugikan pada saat itu. Sekali perubahan tersebut terjadi, maka tidak dapat kembali ke keadaan semula. Perubahan tersebut merupakan interaksi antara gen yang sudah dibawa sejak awal kehidupan, dengan lingkungan barunya. Pada saat dilahirkan, sebagian besar perubahan tersebut menetap atau selesai, kecuali beberapa fungsi, yaitu perkembangan otak dan imunitas, yang berlanjut sampai beberapa tahun pertama kehidupan bayi. Kekurangan gizi yang terjadi dalam kandungan dan awal kehidupan menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian. Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh termasuk sel otak dan organ tubuh lainnya. Hasil reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi di ekspresikan pada usia dewasa dalam bentuk tubuh yang pendek, rendahnya kemampuan kognitif atau kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak. Reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi juga meningkatkan risiko terjadinya berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes dengan berbagai risiko ikutannya pada usia dewasa.
Berbagai dampak dari kekurangan gizi, berdampak dalam bentuk kurang optimalnya kualitas manusia, baik diukur dari kemampuan mencapai tingkat pendidikan yang tinggi, rendahnya daya saing, rentannya terhadap penyakit tidak menular, yang semuanya bermuara pada menurunnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Dengan kata lain kekurangan gizi dapat memiskinkan masyarakat. Berbagai masalah tersebut bukan disebabkan terutama oleh faktor genetik yang tidak dapat diperbaiki seperti yang diduga oleh sebagian masyarakat , melainkan oleh karena faktor lingkungan hidup yang dapat diperbaiki dengan fokus pada masa 1000 hari pertama kehidupan.
Masalah kekurangan gizi 1000 hari pertama kehidupan diawali dengan perlambatan atau retardasi pertumbuhan janin yang dikenal sebagai IUGR (Intra Uterine Growth Retardation). Di negara berkembang kurang gizi pada pra-hamil dan ibu hamil berdampak pada lahirnya anak yang IUGR dan BBLR. Kondisi IUGR hampir separuhnya terkait dengan status gizi ibu, yaitu berat badan (BB) ibu pra-hamil yang tidak sesuai dengan tinggi badan ibu atau bertubuh pendek dan pertambahan berat badan selama kehamilannya (PBBH) kurang dari seharusnya. Saat hamil, ibu yang bertubuh pendek akan cenderung melahirkan bayi yang BBLR. Apabila tidak ada perbaikan terjadinya IUGR dan BBLR akan terus berlangsung di generasi selanjutnya, sehingga terjadi masalah anak pendek intergenerasi.
Saat ini, BBLR masih tetap menjadi masalah dunia khususnya di negara-negara berkembang. Lebih dari 20 juta bayi di dunia (15,5% dari seluruh kelahiran) mengalami BBLR dan 95 persen diantaranya terjadi di negara-negara berkembang. Di Indonesia, pada tahun 2010, prevalensi BBLR sebesar 8,8 persen. Kejadian BBLR, besar kemungkinan berasal dari ibu yang hamil dengan kondisi kurang energi kronis (KEK), dan risikonya lebih tinggi pada ibu hamil usia 15-19 tahun. Yang mana proporsi ibu hamil KEK usia 15-19 tahun masih sebesar 31 persen. Ibu yang masih muda atau menikah di usia remaja 15-19 tahun cenderung melahirkan anak berpotensi pendek dibanding ibu yang menikah pada usia 20 tahun ke atas. Dari 556 juta balita di negara berkembang, 178 juta anak (32%) bertubuh pendek dan 19 juta anak sangat kurus (<-3SD), serta 3,5 juta anak meninggal setiap tahun.
IUGR, anak pendek dan anak sangat kurus akan mengakibatkan 2,2 juta kematian dan 91 juta DALYS, atau 21 persen dari total balita. DALYS (Disability Adjusted Life Year) adalah ukuran beban penyakit yang dihitung dari banyaknya tahun yang hilang karena sakit, tidak produktif (disable) atau kematian dini.

Faktor Penyebab Masalah Gizi pada bayi
Masalah gizi merupakan akibat dari berbagai faktor yang saling terkait. Terdapat dua faktor langsung yang mempengaruhi status gizi individu, yaitu faktor makanan dan penyakit infeksi, keduanya saling mempengaruhi. Faktor penyebab langsung pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi prinsip gizi seimbang. Faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang terkait dengan tingginya kejadian penyakit menular dan buruknya kesehatan lingkungan. 

Faktor penyebab langsung pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai kebutuhan, bersih, dan aman, misalnya bayi tidak memperoleh ASI eksklusif. Faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan tingginya kejadian penyakit menular terutama diare dan penyakit pernapasan akut (ISPA). Faktor ini banyak terkait mutu pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku hidup sehat. Kualitas lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih, sarana sanitasi dan perilaku hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air besar di jamban, tidak merokok , sirkulasi udara dalam rumah dan sebagainya.
Faktor lain yang juga berpengaruh yaitu ketersediaan pangan di keluarga, khususnya pangan untuk bayi 0-6 bulan (ASI eksklusif) dan 6-23 bulan (MP-ASI), dan pangan yang bergizi seimbang khususnya bagi ibu hamil. Semuanya itu terkait pada kualitas pola asuh anak. Pola asuh, sanitasi lingkungan, akses pangan keluarga, dan pelayanan kesehatan, dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pendapatan, dan akses informasi terutama tentang gizi dan kesehatan.
Selain itu, Indonesia merupakan negara yang cukup rawan terjadi bencana, dimana bayi dan ibu hamil termasuk korban bencana yang rentan terhadap masalah gizi. Masalah gizi yang biasa timbul adalah kurang gizi pada bayi dan anak berumur di bawah dua tahun (baduta), bayi tidak mendapatkan air susu ibu karena terpisah dari ibunya, dan semakin memburuknya status gizi kelompok masyarakat yang sebelum bencana memang dalam kondisi bermasalah. Kondisi ini diperburuk dengan bantuan makanan yang sering terlambat, tidak berkesinambungan, serta terbatasnya ketersediaan pangan lokal. Masalah tersebut diperburuk lagi dengan kurangnya pengetahuan dalam penyiapan makanan buatan lokal khususnya untuk bayi dan baduta.
Anak usia 0-12 bulan merupakan kelompok yang rawan ketika harus mengalami situasi darurat, mengingat kelompok anak ini sangat rentan dengan perubahan konsumsi makanan dan kondisi lingkungan yang terjadi tiba-tiba.
Intervensi gizi terhadap bayi yang menjadi korban bencana dapat dilakukan dengan cara bayi tetap diberi ASI. Apabila bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya atau ibu tidak dapat memberikan ASI, upayakan bayi mendapat bantuan ibu susu/donor. Apabila tidak memungkinkan bayi mendapat ibu susu/donor, bayi diberikan susu formula dengan pengawasan atau didampingi oleh petugas kesehatan.


Kemiskinan dan Masalah Gizi.
Dikalangan ahli ekonomi beranggapan bahwa masalah kemiskinan adalah akar dari masalah kekurangan gizi. Kemiskinan menyebabkan akses terhadap pangan di rumah tangga sulit dicapai sehingga orang akan kekurangan berbagai zat gizi yang dibutuhkan.
Pada akhirnya, akar masalah gizi berikutnya adalah faktor yang dapat berpengaruh pada semua faktor langsung dan tidak langsung. Sering disebut sebagai underlying factor yaitu situasi politik, ekonomi dan sumber daya yang ada, yang meliputi sumber daya lingkungan, perubahan iklim, bencana dan sebagainya.
Landasan kebijakan program pangan dan gizi dalam jangka panjang di tingkat nasional cukup kuat. Hal ini dirumuskan dalam Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025. Pendekatan multi sektor dalam pembangunan pangan dan gizi pada UU tersebut telah dinyatakan dengan jelas, bahwa pembangunan gizi meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan, dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya.
Pembangunan jangka panjang dijalankan secara bertahap dalam kurun waktu lima tahunan, dirumuskan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden (Perpres). RPJMN tahap ke-2 periode tahun 2010-2014, juga telah memberikan landasan yang kuat untuk melaksanakan program pangan dan perbaikan gizi. Dalam RPJMN tahap ke-2 terdapat dua indikator outcome yang berkaitan dengan gizi yaitu prevalensi kekurangan gizi (gizi kurang dan gizi buruk) sebesar <15 persen dan prevalensi stunting (pendek) sebesar 32 persen pada akhir 2014. Sasaran program gizi juga telah dirumuskan dengan jelas yaitu lebih difokuskan terhadap ibu hamil sampai anak usia 24 bulan.
Status Gizi Ibu Hamil
Sejumlah hal yang mempengaruhi status gizi ibu hamil, yaitu status sosial ekonomi, status kesehatan ibu, jarak kelahiran jika yang dikandung bukan anak pertama, paritas dan usia kehamilan pertama. Status gizi ibu menjadi lebih penting karena selain tingginya berbagai keadaan kurang gizi, persentase kehamilan pada usia muda cukup tinggi.
Kelompok umur 21-35 tahun merupakan umur ideal seorang ibu untuk menjalani proses kehamilan dan persalinan. Usia yang rentan terhadap kelainan kehamilan adalah usia remaja atau usia di atas 35 tahun. Kelahiran prematur pada umumnya terjadi pada ibu hamil usia remaja. Hal tersebut dapat terjadi karena kurang matangnya organ reproduksi, gizi buruk, kurang perawatan selama periode prakelahiran, atau karena kondisi ekonomi-sosial yang rendah.
Sedangkan pada ibu yang berusia di atas 35 tahun juga harus diwaspadai karena semakin bertambah umur maka akan mudah terjadinya kekurangan gizi yang akan berpengaruh terhadap berat badan selama kehamilan dan juga pada bayi yang akan dilahirkan. Pada usia ini juga kadang-kadang dapat menimbulkan down syndrome yaitu keterbelakangan mental.
Selain faktor usia, faktor yang juga mempengaruhi status gizi ibu hamil adalah status ekonomi. Status ekonomi, terlebih jika yang bersangkutan hidup di bawah garis kemiskinan (keluarga prasejahtera), berguna untuk pemastian apakah si ibu berkemampuan membeli dan memilih makanan yang bernilai gizi tinggi. Ekonomi juga selalu menjadi faktor penentu dalam proses kehamilan yang sehat. Keluarga dengan ekonomi cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara rutin dan merencanakan persalinan di tenaga kesehatan.
Berdasarkan berat lahir dan lama gestasi, bayi lahir dapat dikategorikan ke dalam: i) normal, ii) prematur, dan iii) intra uterine growth retardation(IUGR) yang terdiri dari dua kelompok yaitu adequate Ponderal index (API) dan low Ponderal index (LPI). Perkembangan bayi IUGR, bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan masa kehamilan genap bulan (37 minggu), yaitu IUGR API dan IUGR LPI berhubungan dengan karakteristik lahir. BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 g. Perbedaan pertumbuhan kedua kelompok ini tergantung pada waktu terjadinya kurang gizi dalam kehamilan. Pada kelompok API, kurang gizi terjadi sejak permulaan kehamilan, sedangkan pada kelompok LPI hanya pada trimester ketiga kehamilan. Oleh karena itu baik berat maupun panjang badan lahir kelompok API terkena dampaknya (kurus dan pendek), sedangkan dampak pada kelompok LPI terlihat hanya pada berat lahir (kurus) dan kurang terlihat pada panjang badan lahir. Berbeda dengan bayi prematur, yang juga termasuk BBLR tetapi dengan umur kehamilan < 37 minggu, berat dan panjang badannya selain tergantung pada status gizi ibu, juga pada umur kehamilan.
Kesehatan dan gizi ibu hamil merupakan kondisi yang sangat diperlukan bagi janin untuk menjadi sehat. Jika tidak, maka dari awal kehidupan manusia akan bermasalah pada kehidupan selanjutnya. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas
anak yang dilahirkan. Keadaan gizi ibu yang kurang baik sebelum hamil dan pada waktu hamil cenderung untuk melahirkan bayi dengan BBLR, bahkan kemungkinan bayi meninggal dunia. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan rendah berpotensi menjadi bayi dengan gizi kurang bahkan menjadi buruk. Gizi buruk pada bayi berdampak pada penurunan tingkat kecerdasan atau IQ. Lebih jauh lagi dampak yang diakibatkan adalah meningkatnya kejadian kesakitan bahkan kematian.
Salah satu alternatif memotong siklus hayati kekurangan gizi jatuh pada mata rantai status gizi dan kesehatan ibu hamil yang merupakan faktor penentu kesehatan dan gizi generasi selanjutnya. Intervensi gizi pada masa kehamilan dapat memperbaiki komposisi dan ukuran tubuh pada masa remaja dan dewasa kelak. Pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil adalah salah satu alternatif perbaikan gizi bagi generasi berikutnya Intervensi gizi pada masa kehamilan juga dapat memberikan tambahan atau simpanan zat gizi yang lebih baik pada ibu dan janin, misalnya intervensi besi dapat meningkatkan simpanan besi dalam bentuk ferritin atau haemosiderin dalam hati dan darah, seng dalam bentuk α-macroglobulin, asam folat dalam bentuk poliglutamat, dan iodium dalam tiroid (dalam bentuk tiroglobulin).
Simpanan ini dapat dimanfaatkan bayi dari ASI selama masa menyusui misalnya laktoferin. Demikian juga halnya dengan zat gizi yang meningkatkan pertumbuhan seperti seng, yodium, vitamin A dan folat diduga memungkinkan meningkatkan cadanganya pada bayi yang dilahirkan.
Program-program Spesifik dan Sensitif
Faktor langsung dan tidak langsung diartikan sebagai faktor yang masing-masing memerlukan intervensi yang spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik, adalah tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan khusus untuk kelompok 1000 hari pertama kehidupan. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan, seperti imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di posyandu, suplemen tablet besi-folat ibu hamil, promosi ASI eksklusif, MP-ASI dan sebagainya. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek. Hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek.
Sedang intervensi Sensitif adalah berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 hari pertama kehidupan. Namun apabila direncanakan secara khusus dan terpadu dengan kegiatan spesifik, dampaknya sensitif terhadap keselamatan proses pertumbuhan dan perkembangan 1000 hari pertama kehidupan. Dampak kombinasi dari kegiatan spesifik dan sensitif bersifat langgeng (sustainable) dan jangka panjang. Beberapa kegiatan tersebut adalah penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain.



Program-Program Spesifik
1.        Ibu Hamil
·      Perlindungan terhadap Kurangan Zat Besi, Asam Folat, dan Kekurangan Energi dan Protein Kronis.
Perlindungan tersebut bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi masalah-masalah anemi gizi besi dan ibu hamil kurus karena kurang energi dan protein kronis. Anemia besi merupakan faktor penting (13,8%) penyebab kematian ibu. Disamping itu terdapat 23 persen ibu yang kurus. Selain kekurangan gizi ternyata ibu hamil di Indonesia juga menderita kegemukan sebesar 29 persen yang berdampak negatif pada pertumbuhan janin.
·      Perlindungan Ibu Hamil terhadap Malaria
Malaria pada kehamilan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu hamil dan janinnya. Malaria berkontribusi terhadap angka kematian ibu, bayi dan neonatal. Komplikasi malaria yang dapat ditemukan pada ibu hamil adalah anemia, demam, hipoglikemia, malaria serebral, edema paru dan sepsis. Sementara komplikasi terhadap janin yang dikandungnya adalah dapat menyebabkan berat lahir rendah, abortus, kelahiran prematur, Intra Uterine Fetal Death (IUFD) / janin mati di dalam kandungan, dan Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) /pertumbuhan janin yang terbelakang. Prevalensi malaria khusus untuk ibu hamil tidak tercatat, tetapi kasus malaria atau API (Annual Parasite Indeks) pada tahun 2010 tercatat 2 orang per 1000.
2.        Bayi Umur 0-24 bulan
·      ASI Eksklusif
Data Susenas maupun Riskesdas menunjukkan adanya kecenderungan penurunan pemberian ASI eksklusif. Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif rata-rata nasional baru sekitar 15,3 persen. Selain masih kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI, juga maraknya promosi susu formula yang diwaktu yang lalu, menurut UNICEF, "out of control", merupakan hambatan yang menyebabkan tidak efektifnya promosi ASI eksklusif. Dengan dikeluarkannya PP no 33 tahun 2012 tentang ASI sebagai peraturan pelaksanaan Undang-Undang no 23 Tahun 2009 tentang kesehatan yang diharapkan dapat dilakukan tindakan hukum yang lebih tegas bagi penghambat pelaksanaan ASI eksklusif.
·      Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
Setelah ASI eksklusif 0-6 bulan, ASI harus tetap diberikan sampai usia 24 bulan. Oleh karena kebutuhan akan zat gizi anak terus meningkat, ASI saja tidak cukup maka harus ditambah makanan lain sebagai pendamping ASI. Masalahnya oleh karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan keluarga, banyak anak yang tidak memperoleh MP-ASI memenuhi prinsip gizi seimbang, yaitu cukup energi, protein, lemak dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral).
Program-Program Sensitif
1.        Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
Salah satu faktor penyebab kurang gizi termasuk anak pendek adalah infeksi, terutama diare. Tiap tahun 20 persen kematian balita disebabkan karena diare yang disebabkan oleh air minum yang tercemar bakteri. Tingginya angka kematian bayi dan balita, serta kurang gizi sangat terkait dengan masalah kelangkaan air bersih dan sanitasi. Banyak cara sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi resiko diare, diantaranya dengan cuci tangan dengan air bersih dan sabun. Telah dibuktikan bahwa cuci tangan dengan air bersih dan sabun mengurangi kejadian diare 42-47 persen. Dengan demikian program air bersih dan sanitasi tidak diragukan sangat sensitif terhadap pengurangan resiko infeksi.
2.        Ketahanan Pangan dan Gizi
Definisi ketahanan pangan mengatakan bahwa setiap orang harus memiliki akses terhadap pangan yang cukup jumlah dan mutunya untuk memenuhi kebutuhan gizi. Ukuran pemenuhan kebutuhan gizi yang dipakai sampai saat ini terbatas pada kecukupan energi di atas 70 persen kebutuhan. Dibawah itu tergolong rawan pangan. Ukuran kemiskinan dalam MDGs tidak terbatas pada pendapatan per orang per hari, tetapi juga pada banyaknya anak yang kurang gizi dengan indikator anak kurus, pendek, dan kurus-pendek. Pengertian ketahanan pangan yang terbatas pada pemenuhan energi, sensitifitasnya terhadap masalah 1000 hari pertama kehidupan minimal oleh karena masalahnya tidak hanya kekurangan energi tetapi juga zat-zat gizi yang lain.
3.        Keluarga Berencana
Keterpaduan antara program perbaikan gizi dengan keluarga berencana telah berlangsung lama di berbagai negara baik negara maju maupun berkembang. Di Indonesia keterpaduan tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 20 tahun dalam kegiatan Gizi-KB dari program Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), Repelita III-VI (1980-1990an). Ada hubungan erat antara jumlah anak, jarak kehamilan dan kelahiran, serta ASI eksklusif dengan prevalensi anak pendek dan anak kurus karena kekurangan gizi.
4.        Jaminan Kesehatan Masyarakat
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bertujuan untuk membantu masyarakat miskin atau tidak mampu dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat tidak mampu. Manfaat yang diterima oleh penduduk miskin dalam Jamkesmas bersifat komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) sesuai kebutuhan medis dan pelayanan kesehatannya bersifat perseorangan (personal care).
5.        Jaminan Persalinan Universal
Kesehatan ibu dan anak merupakan indikator penting dalam pembangunan kesehatan, selain menunjukkan kinerja pelayanan kesehatan nasional. Upaya yang dilakukan untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak adalah melalui program jaminan persalinan universal bagi keluarga tidak mampu. Jaminan persalinan dilaksanakan untuk ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan ANC, persalinan, dan PNC pada fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan program dan pembiayaannya ditanggung pemerintah. Penyelenggaraan jaminan persalinan terintegrasi dengan program Jamkesmas. Jaminan persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pascapersalinan dan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
6.        Fortifikasi Pangan
Fortifikasi pangan adalah bentuk intervensi gizi yang cost effective. Oleh karena itu dapat dianggap sensitif terhadap pencegahan dan penanggulangan masalah gizi 1000 hari pertama kehidupan. Fortifikasi yang dimaksud adalah fortifikasi pangan untuk mengatasi masalah kekurangan zat gizi mikro, khususnya zat besi, yodium, seng, asam folat dan vitamin A yaitu fortifikasi wajib pada bahan pangan pokok seperti tepung terigu, garam, dan minyak goreng, dan menggunakan fortifikan sesuai dengan masalah gizi yang ada termasuk masalah kelompok 1000 hari pertama kehidupan, yaitu zat yodium, zat besi, seng, asam folat, dan vitamin A.
7.        Perlindungan terhadap kurang yodium.
Tercakup dalam program fortifikasi garam dengan yodium (yodisasi garam) yang berlaku diseluruh tanah air sejak 1994 (Keputusan Presiden RI No.69 Tahun 1994 tentang Pengadaan Garam Beryodium). Persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kadar yodium yang memenuhi syarat hanya 62,3 persen jauh dibawah sasaran (90%). Sasaran tersebut hanya dicapai 6 provinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Gorontalo dan Papua Barat. Apabila keadaan ini terus berlangsung akan mengancam keselamatan janin dan anak pada 1000 hari pertama kehidupan. Kekurangan yodium pada kehamilan merusak pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Kendala utama rendahnya pencapaian konsumsi garam beryodium, karena kurangnya perhatian pemerintah daerah yang antara lain ditengarai dengan lemahnya penegakan hukum peraturan daerah yang mengatur produksi dan peredaran garam beryodium.
8.        Pendidikan Gizi Masyarakat
Pendidikan gizi masyarakat atau dalam bahasa operasionalnya disebut KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) gizi, bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang sama tentang pengertian gizi, masalah gizi, faktor penyebab gizi, dan kebijakan dan program perbaikan gizi kepada masyarakat termasuk semua pelaku program. Pendidikan gizi berperan memberikan pengetahuan, menumbuhkan sikap dan menciptakan perilaku hidup sehat dengan gizi seimbang. Dalam gizi seimbang tidak hanya mendidik soal makanan dan keseimbangan komposisi zat gizi dan kebutuhan tubuh akan zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, dan air), tetapi juga kesimbangan dengan pola hidup bersih untuk mencegah kontaminasi makanan dan infeksi.






















DAFTAR PUSTAKA


            Arisma. 2008. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC

Direktorat Bina Gizi Masyarakat. 2012. Kerangka Kebijakan Gerakan Sadar  Gizi dalam Rangka 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2006. Pedoman Umum Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) Lokal. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2010. Pedoman Pelaksanaan Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat.  Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Ipa, Agustian. 2010. Status Gizi dan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Maccini Kecamatan Makassar. Makassar. Media Gizi Pangan, Vol. IX, Edisi 1, Januari-Juni.

Saragih, Bernatal, Hidayat Syarief, Hadi Riyadi, Amini Nasoetion. 2007. Pengaruh Pemberian Pangan Fortifikasi Zat multi Gizi Mikro pada Ibu Hamil terhadap Pertumbuhan Linier, Tinggi Lutut dan Status Anemia bayi. Gizi Indon 2007, 30(1):12-24.

1 komentar:

  1. mau nanya mbak, tolok ukur suatu daerah dikatakan berhasil dalam meningkatkan pola gizi yang sehat utk bayi apa aja mbak yulie

    BalasHapus